Senin, 05 Desember 2011

SADARLAH BAHWA ALLAH-LAH YANG MENGATUR SEGALA SESUATU DALAM SETIAP DETAIL NYA

Kebanyakan orangsenang ketika hal-hal terjadi sesuai dengan keinginan mereka, tetapi mudah kesal ketika hal-hal kecil tidak sesuai dengan keinginan mereka.Tetapi, seseorang memercayai Allah (khususnya muslim) tidak boleh memiliki sifat seperti itu. Dalam Al-Qur'an, Allah mengungkapkan kabar baik bahwa Ia telah menentukan setiap peristiwa yang terjadi hanyalah demi kebaikan hamba-Nya yang benar, dan tidak ada yang harus menjadi kesedihan atau kesulitan bagi mereka.

Seseorang yang mengetahui kebenaran ini didalam hatinya, dapat menyenangi hal apapun yang ia jalani dan berkah yang terdapat di balik hal itu.

Banyak orang tidak memikirkan bagaimana mereka tercipta ataupun mengapa mereka ada. Meskipun hati nurani mereka membimbing mereka agar sadar tentang keajaiban dan sempurnanya dunia yang dimiliki oleh Sang Pencipta, banyak sekali cinta yang mereka rasakan untuk kehidupan dunia ini, atau keengganan mereka untuk menghadapi kebenaran, membawa mereka untuk menyangkal realitas mengenai keberadaan-Nya. Mereka menolak bukti bahwa setiap kejadian dari hidup mereka telah ditentukan sesuai dengan rencana dan tujuan, tetapi perilaku mereka menunjukkan aksi yang salah, yakni menganggap hal-hal yang terjadi hanyalah kebetulan ataupun keberuntungan. Bagaimanapun, itu hanyalah pandangan sekilas dari manusia yang menghalangi mereka untuk melihat kebaikan/sisi positif dari suatu kejadian dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Adajuga mereka, yang sadar akan keberadaan Tuhan, dan memahami bahwa Dialah yang telah menciptakan seluruh alam semesta. Mereka mengakui bukti bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan atau mengatur terbit dan terbenamnya matahari. Mereka mengakui bahwa selain karena kuasa Allah, tidak ada satupun kejadian yang dapat terjadi. Namun, ketika terjadi sedikit insiden kecil dalam hidup mereka, mereka tidak dapat berpikir mengenai kekuasaan Allah. Namun demikian, Dialah yang mentakdirkan seorang maling untuk mencuri ke rumah seseorang saat malam, menjadikan suatu halangan yang membuat seseorang jatuh, sebidang tanah yang subur untuk menghasilkan tanaman menjadi gersang, perdagangan agar menguntungkan, ataupun panci masakan yang terlupakan di kompor. Setiap kejadian termasuk dalam hikmah Allah yang tak terbatas dan sesuai dengan rencana-Nya yang luhur. Setetes noda lumpur pada celana kita, sebuah tusukan pada ban, jerawat muncul di wajah seseorang, penyakit, atau hal yang tidak diinginkan, semuanya dimasukkan kedalam kehidupan seseorang dengan rencana tertentu.

Tidak ada seseorang yang mengalami—mulai dari ia membuka matanya—dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dan terpisah dari Allah. Semua kehidupan, secara keseluruhan diciptakan oleh Allah, satu-satunya yang memegang kendali atas alam semesta. Ciptaan Allah adalah sempurna, tanpa cacat, dan penuh dengan tujuan. Ini adalah bagian dari takdir yang diciptakan oleh Allah, seseorang tidak boleh mendiskriminasi suatu kejadian dengan menetapkan suatu kejadian buruk dan jahat. Apa yang menjadi kewajiban pada seseorang adalah untuk mengenali dan menghargai kesempurnaan dari semua kejadian, dan untuk percaya dengan semua kepastian yang terletak didalamnya, terlebih dari itu kita juga harus sadar mengenai kebijakan Allah yang tak terbatas, semua dirancang untuk mengarah kepada tujuan yang luar biasa. Memang, bagi mereka yang percaya dan mengenali kebaikan dalam segala hal yang menimpa mereka, baik di dunia ini dan dunia luar merupakan bagian dari suatu kebaikan yang kekal.

Dalam Al-Qur’an, Allah menarik perhatian kita kepada fakta tersebut, hampir di setiap halaman. Inilah sebabnya mengapa kegagalan untuk mengingat bahwa segala sesuatu menurut takdir tertentu merupakan kegagalan bagi seseorang yanb beriman. Takdir yang sudah ditentukan oleh Allah itu unik, dan dialami oleh seseorang persis seperti yang telah Allah tetapkan. Orang awam bisa merasakan keyakinan pada takdir hanya sebagaicara untuk “menghibur saat terjadi bencana.”

Takdirditahbiskan oleh Allah adalah unik, dan dialami oleh seseorang dalam persis cara Allah telah ditakdirkan. Orang biasa merasakan keyakinan pada takdir hanya sebagai cara untuk "menghibur saat terjadi bencana". Seorang mukmin, di sisi lain, mencapai pemahaman yang benar terhadap takdirnya, sepenuhnya menangkap bahwa itu adalah program yang sempurna satu-satunya yang dirancang khusus untuknya.

Takdir adalah agenda sempurna yang seluruhnya dikembangkan untuk seseorang untuk masuk surga. Hal ini penuh dengan berkat dan untuk tujuan ilahi. Setiap kesulitan yang ditemui seseorang di dalam dunia ini akan menjadi sumber kebahagiaan tak terbatas, suka cita, dan damai di akhirat. Ayat “Karena seseungguhnya sesudah kesulitan datang kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah : 5) menarik perhatian kita pada fakta ini, dalam takdir seseorang, kesabaran, dan keberanian dari seseorang yang beriman adalah ditakdirkan bersama dengan imbalannya masing-masing di akhirat.

Ini mungkin terjadi selama hari itu, bahwa orang beriman akan menjadi jengkel atau khawatir tentang hal-hal tertentu yang telah terjadi. Alasan utama dari rasa jengkel tersebut adalah kegagalannya untuk mengingat bahwa kegagalan dalam hidupnya adalah bagian dari takdir yang khusus diciptakan oleh Allah. Padahal, ia akan dihibur dan tenang ketika ia diingatkan tentag tujuan penciptaan Allah.

Inilah sebabnya mengapaorang beriman harus belajar untuk terus diingat bahwa semuanya sudah ditakdirkan, serta mengingatkan orang lain mengenai fakta ini. Dia harus menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kejadian tersebut bahwa Allah telah ditakdirkan untuknya, di relung tanpa batas waktu, menaruh kepercayaan kepada-Nya, dan berusaha untuk mengenali alasan-alasan di balik itu. Mereka yang berusaha memahami alasan ini akan—dengan izin Allah—sukses. Meskipun mereka mungkin tidak selalu bisa mendeteksi tujuan mereka yang sebenarnya, mereka harus tetap diyakinkan bahwa, ketika sesuatu terjadi, tentu saja untuk beberapa yang baik dan untuk tujuan.

Kepulangan Wanita dari Masjid

Jika Imam Salam, hendaklah wanita cepat-cepat keluar dari Masjid. Segera pulang kerumah.

Adapun laki-laki, masih tetap duduk di Masjid agar mereka TIDAK BERBARENGAN dengan kepulangan wanita.

Hal ini sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallohu ‘anha, “Sesungguhnya kaum wanita, mereka dahulu apabila Imam selesai sholat membaca salam, maka kaum wanita segera berdiri untuk pulang. Adapun Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam dan kaum laki-laki yang sholat masih tetap duduk di Masjid sampai waktunya pulang. Apabila Rosulullah berdiri, maka berdiri pula kaum laki-laki.” HR. Bukhari

Berkata Imam Az-Zuhri, “Kami berpendapat, wallohu a’lam, hal itu dilakukan oleh kaum laki-laki agar mereka tidak berbarengan dan berpapasan dengan kaum wanita.”

Berkata Imam Asy-Syaukani [Nailul Author, 2/326], “dari hadits diatas menunjukkan bahwa disukai bagi Imam Sholat untuk memperhatikan keadaan makmumnya dan hendaklah imam menjaga dan berhati-hati, serta menjauhi tempat-tempat atau faktor-faktor terjadinya fitnah dalam jamaah makmumnya. Dimakruhkan ikhtilatnya laki-laki dan wanita di jalan (menuju dan pulang dari Masjid).”

Minggu, 04 Desember 2011

Definisi Pendidikan Islam

Arti pendidikan sangat beragam. Definisi atau pengertian pendidikan antara seorang ahli dan yang lainya tidaklah sama. Apalagi ahli-ahli pada zaman dahulu dan zaman sekarang. Berikut beberapa definisi pendidikan.

Menurut Prof. Dr. John Dewey, pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang.[1]

Menurut Prof. Herman H. Horn, pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.[2]

Menurut Prof. H. Mahmud Yunus, pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi. Agar si anak hidup bahagia, serta seluruh apa yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.[3]

Mnurut hemat kami, pengertian yang diberikan oleh Prof. H. Mahmud Yunus lebih mengena dan menyeluruh dibanding pengertian-pengertian pendidikan menurut para pakar lainya.

Pendapat diatas adalah pengertian tentang pendidikan. bila dikaitkan dengan Islam, maka menjadi “Pendidikan Islam”. Nama baru ini tentunya memiliki pengertian tersendiri dari pengertian-pengertian di atas, walau dalam kenyataanya masih dapat ditarik benang merah diantara beberapa pengertian tersebut. Beberpa pengertian tentang pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

M. Yusuf Al-Qardhawi memberikan pengertian bahwa: “pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan ketrampilanya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam keadaan damai maupun perang dan menyiapkanya untuk masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatanya, manis dan pahitnya”.[4]

Hasan Langgulung merumuskan pendidikan islam sebagai suatu “proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat”.[5]

Menurut Syah Muhammad A. Naquib Al-Attas, pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Sehingga, membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.[6]

Sedangkan menurut M. Arifin, pendidikan Islam adalah system pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupanya sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadianya.[7]

Dari pengertian-pengertian diatas, dapatlah kita mengambil benang merah pengertian pendidikan Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak didik untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Dalam prakteknya, pendidikan Islam bukan hanya pemindahan pengetahuan kepada anak didik, namun perlu diintegrasikan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib, sehingga dapatlah seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Islam memiliki kepribadian muslim yang mengimplementasikan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari, serta hidup bahagia di dunia dan akhirat.


[1] Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983)

[2] Ibid. hal 27

[3] Op.Cit, Mahmud Yunus, At-Tarbiyyah wa Ta’lim

[4] Yusuf Al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs.Zainal Abidin Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang, 1980) h.157

[5] Hasan Langgulung, Beberapa pemikiran tentang pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma’arif, 1980) h.94

[6] Drs. H. Hamdani Ihsan dan Drs. H. A. Fuad Hasan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998) h.16

[7] Op.Cit, M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, h.10

Islam adalah Agama dan Sumber Peradaban Dunia

Agama Islam adalah agama yang syaamil dan kaamil. Artinya, sempurna dan menyeluruh sebagai rahmat bagi seluruh ummat manusia. Derajat kesempurnaan agama ini tidak dapat diruntuhkan oleh berbagai pendapat. Malahan, beberapa kalangan yang mencoba mengobok-obok Islam, terkena batunya sendiri.

Kesempurnaan Agama Islam bukan hanya terletak pada aspek ibadah dan kepercayaan. Lebih daripada itu, Islam memiliki syari’at bagi ummatnya yang menjadi pedoman kebahagiaan di dunia dan akhirat. Syari’at inilah pokok beradabnya suatu bangsa. Tanpa syari’at/ peraturan, manusia tidak lebih dari binatang yang saling memusuhi satu sama lainya, walau berakal.

Dalam syari’ah Islam, seorang disuruh untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran. Mewajibkan kepada ummatnya untuk menjaga kebersihan, menepati janji, berkata jujur, tidak mengkhianati amanah dan masih banyak lagi perintah dalam syari’at Islam yang mengarahkan manusia untuk membentuk sebuah peradaban.

Maka, tak ayal sumber utama peradaban ummat Islam terletak pada dua pusaka yang ditinggalkan Nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Kedua pusaka itu adalah Al-Qur’an dan As-sunnah. Membaca dan mengamalkan kedua pusaka tersebut, maka seseorang tidak akan tersesat baik di dunia maupun akhirat. Dalam kata lain, sudah mendapatkan jaminan kebahagiaan selamanya.

Namun begitu, terkadang manusia lengah bila ditempa ujian dari Allah, Tuhan Semesta alam. Hakikat ujian bukanlah bencana. Tapi itu adalah suatu anugerah dari-Nya, tanda bahwa Ia memperhatikan seorang hamba. Tiada sedikitpun kehidupan dalam diri seorang muslim, kecuali bermanfaat baginya. Dari pada itu, ada sebuah kata bijak untuk mengkiaskan keadaan seorang muslim. Sesungguhnya kehidupan seorang muslim itu sangat mulia, apabila ia mendapatkan kenikmatan ia berssyukur, maka itu baik baginya. Dan apabila ditimpa bencana, ia besabar, dan itu baik pula baginnya.

Filsafat sebagai Landasan Filosofis Bagi Ilmu

Filsafat sebagai Landasan Filosofis Bagi Ilmu

filsafat ilmu sebagai landasan filosofis ilmu pengetahuan

buku filsafat ilmu pak Muslih

Proses dan hasil keilmuan pada jenis ilmu apapun, ternyata sangat ditentukan oleh landasan filosofis yang mendasarinya, yang memang berfungsi memberikan kerangka, mengarahkan, menentukan corak dari keilmuan yang dihasilkanya. Landasan filosofis yang dimaksud adalah asumsi dasar, paradigma keilmuan dan kerangka teori (Theoritical Framework).

Ketiga inilah yang lazim disebut sebagai filsafat ilmu atau filsafat keilmuan. Kerja ketiga landasan filosofis ini, memang tidak serta merta bisa ditunjukkan dalam wilayah praktis, namun jelas sangat menentukan corak ilmu yang dihasilkan. Dalam sejarah perkembangan ilmu, ketiga hal ini memiliki keterkaitan tidak saja historis namun juga sistematis. Disebut demikian, karena suatu paradigma tertentu lahir berdasarkan asumsi dasa tertentu, begitupula teori tertentu bekerja tidak keluar dari wilayah paradigmanya. Dengan demikian bisa dikatakan, hubungan ketiganya mengambil bentuk kerucut, dalam arti mulai dari yang umum ke yang lebih khusus.[1]

Dari bagan sederhana di samping bisa dilihat bahwa ilmu-ilmu lahir dari atau sangat ditentukan oleh kerangka teori (Theoritical Framework) yang mendasarinya, yang wilayahnya lebih umum (baca: lebih abstrak dan filosofis. Sementara kerangka teori lahir dari paradigma tertentu yang sifatnya juga lebih umum, begitupula paradigma tertentu juga lahir dari/berdasarkan asumsi-asumsi yang mendasarinya.

Asumsi dasar proses keilmuan diidentifikasi oleh filsafat ilmu menjadi beberapa aliran pemikiran, yang meliputi: rasionalisme[2], empirisme[3], kritisme dan intuisionisme[4], sementara paradigma keilmuan (dalam tradisi sains) meliputi:positivisme[5], post-positivisme[6], konstruktivisme[7] dan teori kritis (critical theory). Masing-masing paraadigma tersebut bisa mencakup beberapa kerangka teori, yang ssecara serius dibangun dan ditawarkan oleh seorang ilmuwan atau kelompok ilmuwan tertentu.

Dari sini bisa dipahami, jika beberapa ilmu kemudian dapat diklasifikasikan menurut kesamaan karakteristiknya, yakni atas dasar kesamaan teori atau paradigmanya. Misalnya seperti apa yang dilakukan Habermas, sebagaimana telah diuraikan diatas.

Menurut hakikat dan sebab-musabab keberadaannya, Filsafat Ilmu Pengetahuan merupakan sublimasi atau intisari dan berfungsi sebagai pengendali moral daripada pluralitas keberadaan ilmu pengetahuan. Hal ini berarti keberadaan Filsafat Ilmu Pengetahuan berfungsi sebagai bidang studi filsafat praktis dan bersifat normatif . Dengan keberadaannya dalam konteks pluralitas ilmu pengetahuan itu, maka Filsafat Ilmu Pengetahuan berkepentingnan pada nilai kebenaran ilmiah dan kegunaannya. Kedua nilai ini dibangun dalam satu kesatuan sistem, sehingga keberadaan pluralitas ilmu pengetahuan tetap terikat dalam sikap (pandang) ilmiah yang bersifat interdisipliner dan multidisipliner. Sedemikian rupa sehingga jalan dan metode pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pragmatis bagi kelangsungan kehidupan yang berkeadilan menjadi jelas dan tepat.[8]

Ilmu skadar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis.[9]

Dari bagan di atas bisa dilihat bahwa ilmu-ilmu lahir dari atau sangat ditentukan oleh kerangka teori (theoretical framework) yang mendasarinya, yang “wilayahnya” lebih umum, sementara kerangka teori lahir dari paradigma tertentu yang sifatnya juga lebih umum, begitu pula paradigma tertentu juga lahir dari/berdasarkan asumsi yang mendasarinya.[10]


[1] Muslih, op.cit., hlm.40

[2] Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul.

[3] Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

[4] Suatu anggapan bahwa ilmu pengetahuan dapat dicapai dengan pemahaman langsung; berlawanan dengan proses pemikiran yang sadar atau persepsi yang langsung; anggapan bahwa kewajiban moral tidak dapat disimpulkan sendiri 9tanpa pertolongan Tuhan). Lihat: Pius A Partanto, M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiyah Populer, (Surabaya, Arloka: 1994)

[5] Anggapan bahwa yang berarti itu hanya proposisi analitik yang dapat dibuktikan kebenaranya secara empiris.

[6] Post Positivisme lawan dari positivisme: cara berpikir yg subjektif Asumsi terhadap realitas. Kebenaran subjektif dan tergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan.

[7] Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

[8] Op.Cit, Suparlan, hlm.35

[9] Op.Cit, Jujun, hlm.72

[10] Op.Cit, Muslih, hlm. 40

Pengantar Ilmu Tasawuf

Tasawuf adalah salah satu dari filsafat Islam, yang tujuanya menjadikan manusia berprilaku zuhud dari dunia yang fana ini. Tetapi, lantaran banyak bercampur dengan negri dan kebudayaan bangsa lain, sedikit banyak mempengaruhi kajian dan ritual para sufi. Tasawuf bukanlah agama, melainkan suatu ikhtiar yang setengahnya diperbolehkan dalam ajaran Islam dan sebagian lain tidak sadar, telah tergelincir dan menjauh dari agama. Atau terasa enaknya pengajaran agama lain yang tak terasa telah menyimpang jauh dari Islam.

Ibnu Khaldun berkata : “tasawuf itu adalah semacam ilmu syari’ah yang timbul kemudian di dalam agama. Asalnya ialah ketekunan beribadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu mendaya orang banyak, kelezatan harta benda, dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadat!”[1]

Demikianlah pendapat Ibnu Khaldun, yang meneropong suatu perkara dari segi ilmu pengetahuan. Tetapi ahli-ahli tasawuf yang terbesar mempunyai pula ka’idah sendiri-sendiri tentang arti tasawuf itu.

Ada yang berkata: “Tasawuf ialah putus hubungan dengan makhluk dan kuatnya perhubungan dengan khalik.”

Al-Junaid berkata: “Tasawuf ialah keluar dari budi, perangai yang tercela dan masuk kepada budi, perangai yang terpuji.” Membingungkan memang pendapat beliau ini.

Pendapat yang paling controversial diungkapkan oleh Al-Hallaj. Seketika ia disalibkan dan menunggu ajal, sebab dia berkepercayaan bahwa dirinya bersatu dengan Tuhan, maka dating seseorang dating bertanya padanya: “Diwaktu sekarang, patut engkau meninggalkan kata kepada kami, apakah arti yang sejati dari tasawuf itu?” dalam keadaan darah mengucur dari tubuhnya dan punggungnya hangus terkena panas, ia berkata: “tasawuf ialah yang engkau lihat dengan matamu ini. Inilah dia tasawuf”[2]

Kesatuan Islam dan Ilmu Pengetahuan !


hubungan Islam dan Pengetahuan
Islam merupakan kesatuan ajaran yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya membahas apa yang wajib dikerjakan dan apa yang dilarang, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dalam hal ini aspek mengetahui menjadi sangat penting sehingga antara Islam dan Ilmu Pengetahuan tidak dapat dipisahkan.

Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Islam memandang ilmu pengetahuan sbagai cara pandang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti.

Bagian pertama ketika seorang masuk agama Islam dari kesaksian iman Islam adalah ucapan, “Laa ilaha illallah” (Tak ada tuhan selain Allah), merupakan sebuah pernyataan pengetahuan tentang realitas. Kalimat ini adalah pernyataan yang secara popular dikenal dalam Islam sebagai prinsip utama/ prinsip tauhid atau keesaan tuhan.

Orang Islam memandang berbagai jenis ilmu pengetahuan seperti sains, ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora sebagai beragam bukti yang menunjukkan kebenaran bagi pernyataan yang paling fundamental dalam Islam ini.

Benturan dan ketidakcocokan antara Islam dan ilmu pengetahuan dipandang dari sisi manapun tidak akan pernah ada. Karena sesungguhnya kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan Keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religious, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan Keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan Keesaan Tuhan berarti meneguhkan bahwa kebenaran Tuhan Allah adalah satu dalam EsensiNya, dalam Nama-nama dan Sifat-Sifat-Nya, dan dalam perbuatam-Nya.

Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah bahwa orang harus menerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Seagai sebuah sumber ilmu pengetahuan, agama Islam bersifat empatik ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling berkaitan dalam jaringan kesatuan alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka. Kosmos teriri atas berbagai berbagai tingkat realitas, bukan hanya yang fisik. Tetapi ia membentuk suatu kesatuan karena ia mesti memanifestasikan ketunggalan sumber dan asal-usul metafisikanya yang dalam agama disebut Tuhan.

Semangat ilmiah para ilmuan dan sarjana muslim pada kenyataanya mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan bahwa, secara religius dan historis, asal-usul dan perkembanga semangat ilmiah dalam Islam berbeda dari asal usul dan perkembangan sains di Barat. Tak ada yang lebih baik dalam mengilustrasikan sumber religius semangat ilmiyah dalam Islam ini daripada fakta bahwa semangat ini pertama kali terlihat dalam ilmu-ilmu agama.

Orang-orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ketiga Hijriyah atau abad ke sembilan masehi. Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap ilmiyah dan ketrangka berfikir ilmiyah, yang mereka warisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektifitas, penghormatan pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian merupakan sebagian ciri-ciri ilmuan muslim yang sangat luar biasa.

Kecintaan ummat muslim terlebih para ulama’dan ilmuan di zamanya pada definisi-definisi dan analitis konseptual atau semantik dengan penekanan yang besar pada kejelasan dan ketepatan logis, juga sangat nyata dalam pemikiran hukum seorang Muslim maupun dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan studi atas berbagai aspek al-Qur’an, seperti limu tafsir.Dalam Islam, ilmu pengetahuan logika tak pernah dianggap berlawanan dengan keyakinan agama. Bahkan para ahli tata bahasa, yang pada awalnya menentang diperkenalkanya logika Aristoteles (Mantiq) oleh para filosof muslim seperti al-Farabi, bersikap demikian karena keyakinan bahwa logika-teologis-yuridis seperti Stoics, yang dikenal sebagai adab al-jadal atau seni berdebat sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan logika mereka.